Minggu, 03 Agustus 2014

Ngarep banget setelah Ramadhan. Masjid Darussalam deket rumah, setiap subuh atau minimal seminggu sekali mengundang ustad sholih cerdas buat ceramah. Kayak Ramadhan kemarin.

Kenapa ustad sholih cerdas berwawasan?!

1. Karena kadang sebagian ustad tidak banyak menambah wawasan dan pengalamannya dengan informasi kekinian. Ketika ceramah hanya copy paste dari buku atau bahkan situs website yang sama dengan orang-orang umum bisa akses juga.

2. Cerdas membaca kondisi jamaah. Karena kadang sebagian ustad seperti menggurui atau bahkan meremehkan jamaah. Ujung2nya semacam sok tahu gitu. Jadi mental deh.

3. Sholih. Karena kadang kerasa di hati ustad yang menyampaikan dengan hati atau cuma beretorika. Sebagus apapun materinya kalau gak bener2 dari hati, gampang menguapnya. 

4. Karena saya juga menuntut dan membekali diri saya seperti itu. Entah nanti bisa berbagi di depan jamaah atau tidak, minimal kelak menjadi ibu buat anak-anak. Aamiin. #uhuk

Kala Ramadhan, setiap tarawih atau subuh di masjid kan ada 30 menit untuk tausyiah dari ustad-ustad yg didatangkan dari berbagai penjuru Indonesia, dan Palestina. Sayangnya kadang lupa nama beliau-beliau. Ingetnya hanya isinya, itupun sebagian yang makjleb. Alesannya gak pernah nyatet di buku. Hari gini buku? Gadget dong. #eh.

Maunya sampai rumah ditulis ulang. Tapi rasa ngantuk dan kudu menyelesaikan target tilawah membuat saya menunda, tertidur, lalu lupa. Gak banget deh. 

Ini sedikit saja sharing isi tausyiah yang mungkin belum ditulis di buku atau website umum. Kisahnya berdasar pengalaman langsung sang ustad yang saya anggap sholih cerdas berwawasan.

Kisah 1
Saat itu beliau menghadiri acara penghargaan negara-negara yang memiliki tingkat idealisme keamanan dan kenyamanan hidup serta masyarakatnya (apa istilahnya, kudu cari referensi ni). Beliau menyebutkan bahwa kriteria-kriteria yang digunakan untuk meranking negara-negara itu didasarkan pada nilai-nilai Islam. Indonesia kita tercinta ini rupa-rupanya berada di urutan 100sekian (gak jelas soundnya) tetangga kita Malaysia unggul di 70sekian. Penasaran siapa nomor 1? Adalah negara yang mayoritas penduduknya bukan islam. Wow. Rasa penasaran membuat beliau menyelidik, kok bisa. Lalu jadilah beliau mewawancarai warga di negara tersebut. Apakah sebabnya? Mereka menjawab karena menjauhkan Babi dan Miras di negaranya. #jlebebeg. Pantes?!
Kisah lain, saat itu beliau di sana bersama anaknya, datang ke sebuah gedung pertemuan. Beliau parkir rapi di dekat gedung. Selesai pertemuan, beliau dan anaknya mendapati sebuah kertas terselip di wiper mobilnya. Saat dibaca tertulis "Maafkan saya, saya sedang terburu-buru tadi, sehingga tidak sengaja menabrak mobil anda, saya tidak sempat bertemu degan anda tadi, coba anda periksa bagian mobil anda. Saya mohon anda untuk menghubungi nomor telepon saya." Tercantum nomor di bawahnya. Dengdong! Seketika membandingkan yang terjadi di Indonesia, di lingkungan sekitar kita. Tabrak lari. Lempar batu sembunyi tangan. Istighfar. Istighfar. Istighfar. (Negara apakah? Lanjutkan baca sampai habis)

Renungan saya : Iya ya. Sepertinya sebagian orang sudah merasa nyaman dengan kehidupan di Indonesia saat ini. Mudah ikhlas mudah berdosa. Ketika ada pencopet di jalan. Kita mudah memaafkan, mengikhlaskan. Trus kalau ada lagi korban pencopet atau bahkan rampok. Ada lagi dan ada lagi. Apakah benar ikhlas kita? Justru itu menggambarkan betapa kita tidak peduli. Sama seperti saat kita mengikhlaskan jawaban ujian kita dicontek oleh teman-teman. Apakah kita mengikhlaskan orang yang kita sebut teman itu berhasil haram. Dan nauzubillah nya, saat kita dalam keadaan terdesak, memungkinkan kita melakukan hal yang sama, lalu berharap bahwa orang tersebut akan memaafkan sebagaimana kita memaafkan orang yang tadi-tadi itu. Dari satu menjadi seribu, berarti yang begitu adalah wabah. Istighfar. Ada yang salah terap dari konsep ikhlas memaafkan itu sepertinya.

Oke next.

Kisah 2
Sudah beda orang ini. Setiap kali mengisi training atau meeting beliau selalu datang lebih awal. Setiap kali itu ia selalu bertemu dengan office boy yang bertugas membersihkah ruang training atau meeting tersebut. Dan setiap kali itu pula beliau bertanya pada para office boy itu. Pertanyaannya "Bagaimana perasaan bapak bekerja seperti ini?" Hanya ada satu dari sekian office boy yang jawabannya sangat menakjubkan, sementara office boy yang lain mengaku "yah beginilah pak, yang penting bisa kerja buat makan" 

Office boy special ini dikisahkan lebih lanjut oleh sang ustad bahwa saat ini dia sudah menjadi Kepala Koperasi Karyawan di Perusahaan dia bekerja. Kebayang dong perusahaan yang punya koperasi karyawan kayak gimana dan dia yang dulunya office boy bisa berada di jabatan tersebut. Tahukah, bagaimana dia menjawab. "Saya senang sekali bisa membersihkan ruangan ini Pak, karena kalau saya membuat ruangan ini menjadi rapi, bersih, dan harum, pejabat-pejabat yang menggunakan ruangan ini akan merasa nyaman dan senang, kalau nyaman dan senang kan bisa menghasilkan keputusan yang terbaik juga bagi perusahaan." #yeah

Lalu, tidak sebatas itu. OB ini selalu pulang belakangan. Saat kantor tutup pukul 16.00 ia menyempatkan diri untuk belajar komputer. Dia bilang pada bosnya "Pak, saya sudah beli buku komputer, nah sekarang saya mau diajarin komputer mumpung sudah pada pulang. Kalau pagi kan dipakai sama staff."
Seterusnya, tidak berhenti, ia meminta job tambahan untuk membantu bosanya mengetik apa saja. "Gaji OB gak papa bos, yang penting saya dikasih tugas mengetik begitu." Teman seperjuangan di OB hanya menyindir buat apa begitu, cari perhatian saja. Tapi niat baik membuahkan hasil, para penyindir itu tetap menjadi OB hingga sekarang dan OB spesial ini terus belajar.

Nah, have you imagine? pikiran dan jiwa itu datang dari seorang office boy? Secara struktur jabatan di perusahaan dunia dia rendah, paling rendah. Tetapi dengan rasa syukurnya, ketekunanannya dan keinginan belajarnya yang tinggi diangkatlah derajatnya oleh Allah. Insya Allah, jika kita positif membantu orang lain. Niscaya tidak akan merugi meski tak selalu dipuji.

Renungan : Saya mencoba menggabungkan hikmah dari dua kisah yang saya anggap menarik di atas. Bisa jadi sejak kecil sebagian kita terbiasa berusaha berlomba-lomba mati-matian untuk mengejar sesuatu yang bersifat materi, diukur dengan jumlah nilai, lalu dikaitkan dengan uang. Sedangkan motivasi, cinta, empati, simpati, keesungguhan, ketulusan, bersyukur adalah sesuatu yang tidak bisa diukur. Atau banyak orang meyebutnya integritas diri. Kalaupun diukur relativitasnya cukup besar dan terkadang subjektif. Maka sebagian organisasi/perusahaan/sekolah/instansi pemerintah akan merasa kerepotan jika mengukur kinerja seorang berdasarkan karakter-karakter tersebut. Dikatikan dengan dua kisah di atas. Kawan-kawan OB spesial rela kehilangan waktunya untuk lebih lama di kantor atau untuk belajar komputer. Sedangkan sang OB special bahkan rela dipekerjakan lebih banyak meski gaji masih sama dengan kawan OB yang lainnya. OB spesial ini melakukan sesuatu yang tidak bisa diukur oleh keuntungan yang disebut uang. Ia mengukur diri dengan kebermanfaatkan. Kalau dipikir mana ada yang senang menjadi OB?! Atau bahkan mengerjakan dengan senyuman atau tidak tetap saja OB.
Kisah pertama,  sang penabrak akan kehilangan uangnya karena harus mengganti luka mobil sang ustad apalagi jika ditambah luka sakit hati #eh. Padahal tidak sengaja lho. Tetapi sang penabrak tetap menyempatkan celah waktu terburu2nya untuk menulis pesan untuk sang ustad.

Well, mengapa sebagian kita mudah ikhlas ketika kehilangan sesuatu, bisa jadi karena barang yang hilang itu kita ukur dengan materi/uang/hitung-hitungan. Menganggap bahwa yang hilang bisa didapat lagi nanti dengan uang pula. Bagaimana kalau yang hilang itu adalah integritas kita. Itulah yang terjadi ketika kita kehilangan sesuatu, bukan semata ikhlas barang kita hilang, tetapi juga khawatir karena si pencuri telah kehilangan integritasnya sebagai manusia, ia yang yang apalagi orang Indonesia dan muslim.

Closing Story :
Seperti robin hood yang mencuri kepada si kaya untuk memakani yang miskin. Ia berfikir bahwa si kaya ini dapat membeli makanannya lagi dengan uang. Tetapi si robin tidak sadar bahwa ia telah kehilangan integritasnya. Robin bisa saja memberi makan hari itu, tetapi yang ia wariskan adalah kisah ketidakjujuran. Begitulah selanjutnya kehidupan generasi yang menganggap heroik kisah si ribin hood. Rasulullah dan para sahabat tidak pernah mencontohkan meraih hasil ala robin hood. Karena sesungguhnya tidak ada kemuliaan dari kepedulian si robin. Andai begitu, bisa saja Rasulullah mencuri harta Umar bin Khattab atau bangsawan Quraisy lainnya. Namun, betapa cerdas, mulia, dan intgritasnya Rasulullah saw, beliau mencuri hati Umar dan saudagar-saudagar kaya. Tanpa diminta mereka pun memberikan hartanya dengan ikhlas. Sang OB spesial telah mencuri hati bosnya. Sang penabrak telah mencuri hati sang ustad, pantas saja masyarakatnya New Zealand berhasil mencuri hati para juri tingkat dunia. 

0 comments:

Posting Komentar

feel free to comment ^^d