Minggu, 24 Oktober 2010


***
Sudah jelas, bahwa menyontek adalah media pembelajaran yang secara tidak langsung dibentuk oleh sistem pendidikan kita untuk menjadi koruptor prestatif. (*sotoy)

Selain melakukan rutinitas belajar yang membosankan, setiap  kali ujian, pelajar bisa mendapatkan training-training mandiri "Menjadi Koruptor Cerdas". PPDS (Pelajar Penipu Diri Sendiri) mampu mengatasi ketegangan-ketegangan yang terjadi saat mereka melakukan perbuatan "halal" itu. Bagaimana si dia bisa mencontek dengan mudahnya sedangkan ada yang sampai keringat dingin. Adalah sebuah pembiasaan, sesuatu yang dilakukan secara sadar dan berulang. Secara teori, sebuah pembiasaan akan masuk ke dalam alam bawah sadar yang akhirnya diterima dan diulang tanpa proses evaluasi pada otak. Jadi, ketika dari sekolah kita sudah membiasakan mencontek, berhasil dalam defence mechanism, komplitlah jumlah SKS untuk bisa menjadi koruptor sejati ketika sudah bekerja (*sotoy lagi).

Pernah tahu alat pendeteksi kebohongan? Ada kasus kekurangakuratan alat pengukur kebohongan pada tersangka kriminal. Sehingga alat tersebut tidak selalu bisa menunjukkan bahwa seseorang itu bohong atau benar. Alat tersebut disetting dengan mengukur : percepatan denyut nadi selama diintrogasi, air keringat yang diproduksi, dan gejala fisik lainnya yang ditimbulkan oleh rasa tegang. Ketegangan muncul salah satunya karena kondisi diluar keinginan kita,  kita merasa ada was-was dan ragu, khawatir juga takut, sehingga secara alami tanpa diminta kondisi tubuh yang tidak siap akan mersepon berbagai gejala biologis. Bagi penjahat kelas kakap yang sudah biasa melakukan perampokan dan pembunuhan, respon tubuh tersebut tidak bisa dideteksi, karena ia sudah berulang kali melatih ketegangan ketika diinterogasi. Kondisi diluar keinginan pelaku kriminal, dalam hal ini "tertangkap basah", sudah terjadi berulang kali, sehingga tubuh mahir dalam melakukan netralisasi, yang didapatkan dari hasil belajar sebelumnya. Sama hal nya pada kasus menyontek. (*eh)


***
Pada suatu pertemuan dengan adek kelas di SMA.
Dek May : Mbak, tau nggak sih?
Desti : Enggak.
Dek May : ih mbak ini serius.
Desti : hehe iya apa dek?
Dek May : Alhamdulillah semester ini aku nggak nyontek. Aku udah bersusah payah untuk belajar sendiri dan menghasilkan nilai murni hasil usahaku tanpa nyontek.
Desti : wah hebat itu! gimana rasanya.
Dek May : ya aku lebih puas, karena tau kemampuanku segitu, tapi mbak aku dilema.
Desti : alhamdulillah. eh dilema kenapa?
Dek May : (nada tinggi) kenapa sih ortuku itu! hmm.. jadi kan mbak karena nggak nyontek nilaiku jadi jelek, turun. trus ortuku tau masalah ini. dan mereka bilang apa coba.
Desti : hm apa?
Dek May : "Kenapa kamu nggak nyontek aja sih? temen-temenmu pada dapet nilai bagus, kamu kayak gini!"
Desti : (saya jadi tegang. masih mendengarkan cerita sang adek)
Dek May : aku sedih mbak, mereka tidak bisa menghargai hasil kejujuranku, mereka malu kalau anaknya dapet nilai jelek. mereka lebih seneng kalau aku dapat nilai bagus meskipun itu harus nyontek.
Desti : (menghela nafas panjang) mencoba memahami.
*percakapan dipotong di sini saja


***
Miris mendengarnya. Saya tidak tahu apakah kejadian seperti itu hanya dialami oleh adek kelas saya itu, atau ternyata lebih banyak lagi orang tua yang mendukung anaknya melakukan tindakan kriminal semacam itu. Saya salut pada adek kelas saya itu yang kemudian tidak menciutkan nyali untuk berlaku jujur meskipun ditentang oleh kedua orangtuanya. Namun, bagaimana dengan anak-anak yang dari rumah sudah dibekali dukungan "nyeleneh" semacam itu oleh orang tuanya?

Kembali pada pembahasan di awal. Kondisi kontradiktif antara mempertahankan kejujuran dan keinginan orang tua akan menimbulkan ketegangan. Menyontek tegang. Tidak menuruti perintah ortu juga tegang. Manakah di antaranya yang akan kita jadikan sebuah pembiasaan? Tentunya pembiasaan yang baik bukan. Sesuatu dikatakan baik dan benar tentu ada ilmunya.

عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الأَنْصَارِىِّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْبِرِّ وَالإِثْمِ فَقَالَ « الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ ». ” رَوَاهُ مُسْلِمْ … وَعَنْ وَابِصَةَ بنُ مَعْبَدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ” جِئْتَ تَسْأَلُ عَنِ البِرِّ؟ ” قُلْتُ : نَعَمْ قَالَ ” اِسْتَفْتِ قَلْبَكَ , اَلْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ , وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتُوْكَ ” حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَيْنَاهُ فِي مُسْنَدِي الإِمَامَيْنِ أَحْمَدْ بنُ حَنْبَلٍ وَالدَرَامِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

Dari An Nawas bin Sam’an radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Kebajikan itu keluhuran akhlaq sedangkan dosa adalah apa-apa yang dirimu merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya”.
(HR. Muslim)

Menggaris bawahi bahwa dosa adalah apa-apa yang dirimu merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya. Bukankah ini terjadi saat sedang melakukan aksi menyontek?


“Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Al-Ankabut:8]


Pada posisi tersebut, kita memilih tidak mematuhi keinginan orang tua karena kita tahu bahwa menyontek adalah perbuatan dosa, dengan alasan bahwa dosa merupakan suatu perbuatan mempersekutukan Allah yang dilarang untuk dipatuhi. Diluar hal itu (syirik pada Allah), wajib patuh sama ortu - no excuse.

Saya tahu, menggunakan dan menafsirkan ayat atau hadis sembarangan tanpa ilmu yang baik akan menjerumuskan. Oleh karena itu jika ada pembaca yang lebih faham mohon koreksiannya. Terimakasih.


________________
*pliss deh buat para orang tua (termasuk saya nantinya). jangan korbankan anak sebagai alat pemenuhan obsesi dan gengsi semata.

*tulisan ini dibuat dan diposting soalnya saya mau ujian mid semester pekan depan.




29 comments:

  1. nice share.

    *bakat pskolognya keluar...
    usul dibuat skripsi ukh...

    BalasHapus
  2. ada untungnya ortu sy yg tak pernah nanya2; nilanya berapa?; sudah ngerjain PR belum?

    BalasHapus
  3. nyontek=mencuri/menipu, melahirkan intelektual penipu. wahh panjang urusannya

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah udah berprinsip ndak mau nyontek. Jadi udah biasa. Biarpun orang kanan kiri depan belakang pada grasak grusuk aku sih adem ayem aja. Nilai pun ndak kalah bagus kok ama yang nyontek, alhamdulillah, tanpa beban :)

    BalasHapus
  5. UAN itu katanya juga melahirka banyak penjahat, soalnya jadi dari pihak sekolah juga orang tua mendukung anak-anak mencontek. bahkan contekkannya disediakan dan diberikanoleh sekolah!

    BalasHapus
  6. kebalikannya orang tuaku tuh
    aku nilainya jelek mereka tetep bangga, karena aku berusaha untuk tetap gak nyontek

    tp ya nyontek itu kecurangan yang terstruktur *bikin istilah seenaknya*
    gak cuma anaknya aja yang emang dasar niat curang, tp jg ada kesempatan yang lebar untuk nyontek (misal: pengawas ujian gak bener-bener ngawasin)
    seperti kata bang napi: menyontek tidak hanya karena muncul dari niat orang yang nyontek, tp juga karena ada kesempatan, waspadalah,,waspadalah,,hhahahaha

    BalasHapus
  7. kayaknya anak2 sekarang nyontek juga ga malu kalo ketahuan *sotoy

    BalasHapus
  8. *semoga bisa ditulisan yg selanjut2nya
    udah ada topik sendiri mbah buat skripsi :)

    BalasHapus
  9. dibiarin gitu aja? trus nanya'nya apa?

    BalasHapus
  10. iya, panjang sampe akhirat Des ^^b

    BalasHapus
  11. alhamdulillah. semoga bisa jadi teladan bagi teman-teman yang lain ya Fath.
    *harusnya ada reward bagi pelajar yang kayak begini ni ^^

    BalasHapus
  12. betapa malang nasib pelajar. apa karena yang bikin sistem para koruptor, pendidikan ya jadi begitu itu. sedih saya.
    *baiklah kita harus berusaha lebih giat lagi!

    BalasHapus
  13. eh
    eh eh

    *ini komen nggak ngerti maksudnya...

    BalasHapus
  14. iya ternyata mbah. astaghfirullah. :(

    BalasHapus
  15. semoga tidak kalah banyak orang tua yang seperti ortumu Wen.
    klo ortuku, malahmencurigai aku n adek2ku klo dapet nilai bagus (*nyontek ya?)
    padahal emang udah pinter dari sononye (*huex pede) ;p

    BalasHapus
  16. hoo.. efek para koruptor tertangkap tapi bebas. jadinya koruptor cilik ikut2an. hix :(
    *aish pengalaman ya? ;p

    BalasHapus
  17. he he...
    iya, orang tua g pernah nanyananyain apa2....
    untungnya sy pengertian (*tsah*), belajar ya belajar, main ya main.. (ha ha.....)

    BalasHapus
  18. jangan-jangan juga g pernah nanyain : sekolah atau enggak?
    :D

    BalasHapus
  19. wakakak
    iya, pernah dapet cerita soalnya, ketahuan nyontek nyante aja katanya buat ngemat waktu --'

    BalasHapus
  20. haha. nyontek menghemat waktu 0_o'

    BalasHapus
  21. hah? kok ada yang demen nyontek dan nyuruh nyontek...

    BalasHapus
  22. iya ada. karena tuntutan gengsi. :((

    BalasHapus
  23. hahhh. sedih ya.. untung ortuku nggak gitu.. ortuku nggak mempermasalahkan nilai bagus atau jelek, yg penting jujur. alhamdulillah nilainya jg bagus2.. wkwkwkwkkwkk....

    BalasHapus
  24. iya Ma. alhamdulilah, semoga banyak juga ortu2 kayak ortumu. hmm hmm..bisa nembus UGM juga lg ^^b siplah

    BalasHapus

  25. Senang rasanya bisa berkunjung ke website anda" mudah-mudahan
    infonya bermanfaat Terimakasih sudah berbagi

    BalasHapus

feel free to comment ^^d