Senin, 20 Oktober 2014



“Kalau terlalu taat pada aturan, kamu akan kehilangan kreatifitasmu, tak pantaslah kau jadi seniman.”

Saat itu aku berusia 15 tahun. Kurang lebih tiga tahun melatih bakat seniku di pondok bersama guruku Made. Tahun-tahun awal aku masih mencari kemana bakat turunan keluargaku ini akan kufokuskan. Menari, menyanyi, melukis, memahat atau mengurusi resor ayahku. Aku pernah berfikir bahwa aku adalah anak resesif, yang tidak membawa gen ibu atau bapak. Karena selama belajar di pondok seni, karyaku tak pernah dipuji para turis kala pameran rutin. Sementara teman-temanku berhasil mendapatkan uang jutaan bahkan ratusan juta karena hasil pahatannya. Aku. Ah, terlalu malu rasanya memahat detail tubuh wanita Bali.

Aku memutuskan merantau ke Ibu Kota. Sudah lima tahun aku bekerja di perusahaan periklanan sebagai desainer grafis. Berbeda dengan di pondok, otakku lebih lincah bermain dengan aturan-aturan kurva dan hitungan-hitungan logaritma. Tidak seperti logaritma masa SMA, semua sudah terumuskan dalam sebuah software. Sehingga karya-karyaku lebih orisinil dan aku merasa tenang melakukannya, yang kugambar benda-benda abstrak seperti jeruk berjalan, bunga-bunga berbicara, bahkan panic-panci yang bekerjaran seperti manusia. Tak jarang atasan dan rekan kerjaku memujiku dan memberi bonus. Tetapi entah mengapa terkadang aku merasa bosan berlama-lama di depan layar komputer. Aku mengajukan cuti dan mengeksplore suatu seni yang tidak pernah kusentuh. Fotografi.

Aku mengikuti club fotografi gratisan di Bandung. Mulanya aku sungkan memotret model-model wanita mereka. Tetapi aku harus belajar. Lubuk hatiku berbisik, memalukan jika seorang seniman atau fotografi mengandalkan kecantikan tubuh wanita sebagai seni. Tetapi hampir semua seniman foto yang aku temui berkata, memang begitulah seni wahai anak muda, tanpa batas. Hmm, sudahlah, aku ikuti saja kata hatiku dan kata para seniman itu.

Minggu ini club fotografi mengadakan pameran foto-foto hasil hunting mereka. Aku urung menunjukkan tangkapan kameraku, sayang sudah menjadi kewajiban para anggota untuk tetap memerkan hasil bidikannya. Khawatir, jika karyaku ini dinilai sama seperti waktu pameran di Bali. Hanya karena aku malu mengeksplore wanita, dianggap tak bernilai tinggi. Aku memutar otak. Inilah karyaku…

Judul : Wanita yang Kau Cari
Lokasi : dimanasaja



"Jika kau mencari istri nanti. Tataplah matanya, bertanyalah pada mata itu. Apakah ia akan mengeluarkan air mata jika kau tidak reda terhadap perbuatannya."




"Jikau mencari istri nanti. Perhatikan tangannya. Lembut karena siraman air cucian beras atau alat-alat kecantikan yang teramat mahal."






"Jika kau mencari istri nanti. Dengarkan kata-katanya. Lembut menenangkan atau penuh rengekan gossip dan kata-kata prasangka buta."





"Jika kau memilih istri nanti. Lihat sepatunya, apakah dia sibuk mengoleksi sepatu agar lebih tinggi darimu atau merendah mengharap izinmu saja. Lihat pula seberapa tiggi dan runcing heelsnya, siapkah ia tegak menopangmu saat kau jatuh?"






"Jika kau mendapatkan istri nanti. Jagalah hatinya. Sadarilah, kekuatanmu berasal dari itu. Bukan karena hartanya atau wajah cantiknya.  Sungguh, disaat kepalamu penat dengan urusan dunia, hatinya yang kau jaga, akan menyejukkanmu."



“Kenapa harus dijelaskan?”
“Aku khawatir fotoku dianggap jelek, jadi kutulis saja maksudnya.” Spontan aku menjawab pertanyaan wanita seumurku yang berdiri tepat disampingku saat bersamaan menatap foto terakhir.





"Jika kau menemukan istri nanti. Semoga ia yang membuat kau merasa dibutuhkan, merasa istimewa, merasa tak tersaingi karena ia menjaga dirinya dan anak-anakmu hingga bertemu dengan Sang Pencipta."


Note :
Foto random dari mbah google.
Cerita random dari sekelebatan.

2 comments:

feel free to comment ^^d