Minggu, 07 Juni 2015


Sejak kuliah, Saya sangat menyukai buku-buku yang mengandung teori konspirasi ala Zionis. Selain itu, Saya juga menonton video dokumenter The Arrival yang banyak sekali sub-nya. Takjub, heran, dan wow! Itulah perasaan yang selalu timbul ketika menghabiskan buku-buku itu. Kemudian timbul suasana horor, takut, serta khawatir kala perpaduan audio visual The Arrival dan film-film seperti Angel and Demond, kompak menjadikan suasana tegang. Tiba-tiba Saya menjadi pencuriga. Kecurigaan itu mempengaruhi penilaian saya terhadap seseorang, buku, karya, suratkabar, kedokteran, bahkan makanan. Tentu saja hal seperti ini tidak bisa kita telan mentah-mentah atau tidak kita percaya matang-matang. Saat itu Saya butuh teman diskusi, tidak harus lebih pintar, cukup berfikir lebih terbuka. Hanya saja tidak mudah menemukan teman yang seru ketika diajak berdiskusi tentang ini. Kalaupun ada, dia laki-laki, alih-alih diskusi nanti malah dihasut setan. Akhirnya dengan keterbatasan ilmu, Saya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan kasus-kasus, peristiwa, rencana-rencana jahat yang disajikan oleh teori konspirasi tersebut. Pertanyaan-pertanyaan tentang teori konspirasi yang membuat hati dan otak saya membara akhirnya perlahan-lahan padam oleh kesibukan lain. Meski begitu, melewati beberapa tahun, kekhawatiran yang ditinggalkan oleh rasa penasaran tidak bisa lewat begitu saja. 

Mungkin Saya akan menyebut "rasa khawatir" itu dengan nama : tanggung jawab moral atas informasi yang sudah Saya dapatkan. Agak berat ya namanya. Entah. Tiba-tiba Saya merenungkan bahwa banyak tahu itu berbeda dengan banyak ilmu. Agak sulit menjelaskan hal tersebut sampai Saya tertakdir menonton drama korea yang berjudul "Pinocchio". Hahaha. Pertama menonton Pinocchio Saya menertawakan diri sendiri karena "apa? drama korea?" namun justru disitu Saya mendapatkan sebagian hikmah.

Film itu berkisah tentang kehidupan reporter. Dimana saat seorang reporter akan menyajikan sebuah berita yang akan didengar oleh ribuan atau jutaan penonton, ia harus benar-benar memasaknya hingga matang. Semakin detail informasi yang didapat, semakin lengkap investigasi yang dilakukan, dan semakin akurat verifikasi bukti-bukti yang membenarkan sebuah berita maka semakin berbobot berita tersebut beserta reporternya. Juga hal tersebut berkorelasi dengan besarnya dampak yang terjadi pada penonton. Bahkan sekedar pemilihan dan susunan redaksi penyajian, bisa mempengaruhi psikologi penonton. Ada beberapa krisis dalam film ini yang cukup makjleb, dalamnya informasi reporter bisa menjatuhkan seorang pebisnis dan senator "licik" yang sembunyi selama 14 tahun. Fiuh, saya coba refleksikan di paragraf berikutnya.

Memang agak naif membandingkan drama korea dengan realita yang ada. Bahwa ketika dulu Saya banyak menghabiskan waktu untuk mengetahui lebih banyak tentang "konspirasi zionis" ternyata Saya baru pada tahap mengumpulkan informasi. Artinya, jika itu dijadikan sebuah bahan berita, sangat-sangatlah mentah. Kalaupun akhirnya Saya melakukan investigasi dan verifikasi, lalu apa yang akan Saya lakukan? Serta bagaimana dampaknya? Apakah Saya akan membuat film dokumenter? Atau kemudian Saya banting setir berkarir menjadi polisi, inteligen, wartawan, dll. Lalu apakah Saya akan dibunuh oleh orang lain karena menceritakan kejahatan terselubung yang mereka lakukan. Oh jauh sekali. Sangat banyak sekali, dan amatlah panjang. Lalu bagimana dengan informasi-informasi lain tentang politik, tentang narkoba, tentang rokok, tentang pendidikan. Ah, benarlah kalau nyatanya Saya lebih banyak tahu dibanding banyak ilmu. Banyak tahu sekedar menjadikan Saya was-was dan khawatir, dampaknya tidak besar, untuk menjaga diri Saya sendiri utamanya. Sedangkan banyak ilmu, adalah memperdalam informasi, seperti yang digambarkan dalam drama Pinocchio, sehingga memiliki dampak yang lebih besar bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat.



Pada akhirnya, ini seperti memilih sebuah profesi dan bersikap profesional. Saya merasa tertampar dengan dangkalnya ilmu yang Saya miliki, ya ya sepertinya Saya baru bisa benar-benar memahami. Bahkan jika kita memilih berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga, jadilah profesional. Tidak ada yang sia-sia dengan banyak tahu, itu pilar-pilar was-was yang menjaga diri dan keluarga, tetapi menjadi ibu profesional, akan berbeda dampaknya bagi diri sendiri, suami, anak-anak, dan keluarga seutuhnya juga masyarakat. Contohnya, seorang ibu banyak tahu rumah sakit bagus dikotanya, sehingga saat anaknya sakit ia akan membawa ke salah satu rumah sakit tersebut. Namun, jika ibu tersebut lebih tahu dokter spesialis anak di rumah sakit mana yang telah menangani banyak kasus penyakit anak, tentu ibu tersebut akan lebih efektif.

Tanggung jawab moral itu dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Akan menjadi beban kekhawatiran lebih, jika saat menyerap informasi tentang "teori konspirasi" tetapi Saya justru lebih banyak melihat keluar, memperhatikan musuh, tanpa membekali diri untuk meringankan rasa khawatir itu dengan memilih profesi, memperdalam ilmunya, dan bersikap profesional. 

#CMIIW Allahu'alam.

Mungkin ada ide paragraf yang melompat kalau pembaca tidak pernah menonton Pinocchio. He. Nontonnya fokus ke yang penting. Abaikan roman picisannya. 

0 comments:

Posting Komentar

feel free to comment ^^d